Search

Selasa, 17 Oktober 2017

Perbedaan Peer Review dan Non-Peer Review Journal

1.        Peer Review Journal
Peer Review adalah suatu proses pemeriksaan atau penelitian suatu karya atau ide pengarang ilmiah oleh pakar lain di bidang tersebut. Setelah seorang peneliti menyelesaikan sebuah proyek penelitian maka segera menyusun laporan prosedur dan hasil penelitian tersebut kepada penerbit untuk diterbitkan secara resmi di jurnal ilmiah.
Orang yang melakukan penelaahan ini disebut penelaah sejawat atau mitra bestari (peer reviewer) atau wasit, sedangkan peneliti yang mengirim manuskrip disebut peer reviewee. Seorang peneliti mengirimkan karyanya kepada para ahli lain di lapangan, peneliti biologi yang mempelajari migrasi burung menyampaikan penelitian kepada rekan-rekan ilmuwan lainnya yang memiliki pengetahuan cukup tentang migrasi burung.
Penilaian sejawat bertujuan untuk membuat penelitian memenuhi standar disiplin ilmiah dan standar keilmuan pada umumnya. Publikasi dan penghargaan yang tidak melalui penilaian sejawat kemungkinan akan dicurigai oleh akademisi dan profesional pada bidangnya. Bahkan jurnal ilmiah kadang ditemukan mengandung kesalahan, fraud (penipuan) dan berbagai jenis cacat lainnya yang dapat mengurangi reputasi sebagai penerbit ilmiah.
Proses peer reviewe diawali ketika seorang peneliti mengirim naskah hasil penelitian ke penerbit jurnal ilmiah. Pihak penyunting atau editor jurnal kemudian melakukan proses penelaahan prinsip seperti kesesuaian dengan skup jurnal, standar redaksional dan implikasi dari hasil penelitian tersebut. Jika editor menyetujui maka langkah selanjutnya mengirim manuskrip ke ilmuwan lain yang menguasai bidang tersebut. Pada tahap inilah sistem penelaahan sejawat dilakukan.
Ciri-ciri peer review :
- Dapat dipercaya kebenarannya
- Melaui proses pemeriksaan atau penilaian sejawat
- Datanya dapat diambil keseluruhannya
- Memenuhi standar disiplin ilmiah dan standar keilmuan
- Dapat digunakan sebagai sumber data

2.        Non-Peer Review Journal
Non-Peer Review adalah suatu artikel yang tidak menjalani proses peninjauan yang ketat, atau proses penilaian dan pemeriksaannya tidak melalui terhadap suatu karya ilmiah seseorang di bidang tertentu., sebelum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Hasil yang diperoleh belum tentu benar karena tidak melalui proses penilaian atau pemeriksaan terlebih dahulu. 
Ciri-ciri non peer review :
- Belum dapat dipercaya kebenarannya
- Tidak Melaui proses pemeriksaan atau penilaian sejawat
- Datanya tidak dapat diambil keseluruhannya (hanya pendahuluannya saja )
- Tidak memenuhi standar disiplin ilmiah dan standar keilmuan

- Belum tentu dapat digunakan sebagai sumber data


Daftar Pustaka
Anonim. 2016. Penelaah Sejawat. https://id.wikipedia.org/wiki/Penelaahan_sejawat, diakses pada tanggal 17 Oktober 2017.
Read More

Istilah dalam Jurnal Elektronik

1.    DOI (Digital Object Identifier)
DOI atau Digital Object Identifier yang dikelola International DOI Foundation (IDF) merupakan sistem untuk mengidentifikasi objek konten dalam lingkungan digital yang ditugaskan menuju entitas pada jaringan internet. DOI adalah sebuah cara untuk memberi identitas (digital) bagi sebuah obyek, yang dalam hal ini adalah tulisan ilmiah. Sebagai pengidentifikasi, sebuah DOI bersifat unik (tidak ada duanya) dan persisten (tidak berubah). Begitu dipakai untuk mengidentifikasi sebuah dokumen, maka ia akan melekat di dokumen itu, meski dokumennya diubah, berpindah lokasi, dsb.
Sistem ini digunakan untuk memberikan informasi atau data termasuk di mana sebuah konten dapat ditemukan di Internet. Sistem DOI pada dasarnya adalah sistem penghubung antara pelanggan dengan pengguna jasa. IDF menyediakan kerangka identifikasi konten intelektual, metadata, fasilisitator perdagangan elektronik dan manajemen otomatis media. Objek digital dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari satu tempat ke tempat yang lain, namun DOI tidak akan berubah. 
DOI memiliki format yang sederhana, berbentuk string karakter yang terbagi menjadi dua bagian: prefix dan suffix. Keduanya dipisahkan oleh karakter “/”. Bagian prefix menunjukkan sebuah otoritas (lembaga) yang berwenang meng-assign DOI, dan bagian suffix menunjukkan identifier yang diberikan untuk suatu obyek dokumen tertentu.
Contoh sebuah DOI: 10.1109/ISPAN.1999.778960. DOI ini mengidentifikasi sebuah makalah dalam Prosiding I-SPAN 99 seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Sebuah DOI bisa dikaitkan dengan lokasi tempat dokumen yang ditunjuknya berada. Berbekal sebuah DOI, kita bisa mendapatkan dokumen tersebut tanpa harus mengetahui secara persis di URL mana dokumen tersebut disimpan. Sebagai contoh, DOI pada contoh di atas dapat dilekatkan ke URL yang memberikan layanan resolusi (penemuan lokasi) seperti http://dx.doi.org, sehingga akan berbentuk sebagai berikut:
URL ini akan menunjuk ke lokasi yang sebenarnya tempat dokumen tersebut tersimpan, seperti terlihat pada gambar berikut ini.
Dari halaman web yang ditunjuk oleh DOI di atas bisa dilihat beberapa informasi yang dapat digunakan untuk melacak eksistensi sebuah paper, juga tentang forum/media publikasinya.
DOI dikeluarkan oleh sebuah organisasi yang berminat mendaftarkan dokumen-dokumennya ke sistem database DOI. Organisasi, yang dalam terminologi DOI disebut Registrant, dapat mendaftarkan diri ke International DOI Foundation yang mengelola sistem DOI ini, dan begitu terdaftar, sebuah Registrant dapat mengeluarkan DOInya secara independen. Sampai April 2013, sudah lebih dari 85 juta DOI dikeluarkan oleh 9500 organisasi berupa penerbit, penyelenggara digital library, dan lain-lainnya.
DOI tidak ditujukan untuk menjamin apakah sebuah obyek itu bisa dipercaya atau tidak (misalnya, untuk memeriksa keutuhan integritas naskah), tetapi sebagai sebuah sistem, DOI telah distandarkan sebagai ISO 26324.

2.    ISBN (International Standard Book Number)
ISBN adalah suatu penomoran yang khas atau unik untuk setiap buku, bertujuan untuk memudahkan pemesanan dan membedakan buku satu dan lainnya. Badan Nasional ISBN mempunyai tugas menyebarkan informasi ISBN melalui berbagai terbitan, seperti Bibliografi Nasional Indonesia (BNI), direktori, dan majalah Berita ISBN. Sedangkan Badan Internasionalnya mewakili Asosiasi Penerbit Internasional (International Publishers Association) dan Federasi Internasional Asosiasi-asosiasi Perpustakaan (International Federation of Library Association/IFLA).
Nomor Buku Standar Internasional ini terdiri atas 10 digit angka yang mewakili tiga pengenal atau identitas dan satu pemeriksa, yaitu: 3 digit pertama berupa pengenal kelompok (group identity), empat digit kedua berupa pengenal penerbit (publisher identity), dua digit ketiga adalah pengenal judul buku (title identity), dan satu digit terakhir merupakan pemeriksa (check digit).
Dalam penulisannya, singkatan ISBN adalah dengan huruf besar dan terletak di depan angka-angka pengenal dan pemeriksa. Antara setiap bagian pengenal dan pemeriksa dibatasi oleh tanda penghubung, misalnya ISBN 979-8006-70-4. Angka pengenal kelompok ISBN untuk Indonesia adalah 979. Dengan demikian setiap judul buku yang mempunyai angka 979 berarti diterbitkan di Indonesia. Saat ini jumlah penerbit yang telah menjadi anggota ISBN sebanyak 548 penerbit.
ISBN diberikan oleh Badan Internasional yang berada di Berlin, Jerman. Di Indonesia badan ini mendelegasikan wewenangnya kepada Perpustakaan Nasional RI sebagai Badan Nasional yang berhak memberikan ISBN kepada para penerbit yang memerlukannya. 
Permintaan untuk mendapatkan ISBN dapat ditujukan kepada Perpustakaan Nasional RI, c.q. Pusat Layanan Informasi (Tim ISBN/KDT). Data-data buku yang perlu dikirimkan antara lain judul buku, nama pengarang/penyusun/penerjemah, cetakan/edisi/revisi, tahun terbit, dan kota terbit. Persyaratan lain adalah melampirkan halaman judul, daftar isi kata pengantar, serta surat permohonan dari kantor/lembaga yang akan menerbitkan buku yang dimintakan ISBN/KDT tersebut. Bagi penerbit yang belum mendaftar perlu mengisi surat pernyataan menjadi anggota ISBN dan KDT (Katalog Dalam Terbitan atau CIP/Cataloging In Publication).
Daftar ISBN hanya membayar biaya Rp. 25.000,- saja. Penerbit yang ingin mengajukan permohonan ISBN harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:
1)        Mengisi formulir surat pernyataan untuk penerbit baru yang belum pernah bergabung dalam keanggotaan ISBN;
2)        Menunjukkan bukti legalitas penerbit (akta notaris, surat keputusan, akta kesepakatan, atau surat-surat resmi yang dapat dipertanggungjawabkan;
3)        Membuat surat permohonan di atas kop surat resmi penerbit atau badan yang bertanggung jawab;
4)        Melampirkan halaman judul, halaman balik halaman judul, daftar isi, dan kata pengantar.
Permohonan dapat disampaikan melalui jasa pos, faksimili, email, online, atau datang langsung ke Perpustakaan Nasional dan tidak dikenakan biaya.
a.    ISBN-10
Fungsi ISBN-10
1)   Memberikan identitas terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit.
2)   Membantu memperlancar arus distribusi buku karena dapat mencegah terjadinya kekeliruan dalam pemesanan buku.
3)   Sarana promosi bagi penerbit karena informasi pencantuman ISBN di Jakarta, maupun Badan Internasional yang berkedudukan di Berlin, Jerman.
Kode ISBN-10 terdiri Dari 4 Bagian yaitu:
1)   Kode yang mengidentifikasikan bahasa.
2)   Kode penerbit.
3)   Kode buku tersebut.
4)   Karakter penguji (digit ke-10).
b.    ISBN-13
ISBN -13 ini pengertianya sama degan ISBN-10 yang juga bisa mengindentifiksi sebuah buku komirsil. Keistemawaan dari Kode ISBN-13 ini adalah sejalandengan barcode European Article Number (EAN)-13 dan kode ISBN-13 mempunyai kapasitas kode yang lebih banyak daripada kode ISBN-10.
Fungsi ISBN-13:
Kode ISBN ini adalah pengindentifikan yang dapat dibaca oleh mesin. Kode ISBN mempunyai peranan penting dalam produksi distirbusi dan, penjualan, penyimpanan data bibliografic dalam perdagangan buku. ISBN juga merupakan bagian vital dalam manajemen informasi perpustakaan.
Struktur Kode ISBN-13
1)   Prefix element.
2)   Registration group element yang mengindentifikasi bahasa buku.
3)   Registrant code yang mengidentifikasi penerbit.
4)   Publication element yang mengindentifikasi judul buku.
5)   Check digit dyang berfungsi untuk mengecek kevalidan dari suatu kode ISBN.
Elemen pertama dari kode ISBN-13 ini adalah elemen yang membedakan kode ISBN-13 dengan kode ISBN-10. Elemen ini mempunyai 3 digit nomor yang disediakan oleh EAN International. Prefix yang telah disediakan oleh EAN intenational adalah:
·      978
·      979

3.    ISSN
ISSN merupakan singkatan dari International Standard Serial Number atau Standar Internasional Nomor Majalah (mis: ISSN 2049-3630). ISSN (International Standard of Serial Number) merupakan nomor pengenal yang diberikan kepada terbitan berkala seperti halnya dalam terbitan berkala seperti majalah, surat kabar, newsletter (warta), buku tahunan, laporan tahunan, maupun prosiding.
ISSN terdiri dari 8 angka sebagai nomor pengenal dari majalah tersebut,. Manfaat dari nomor ISSN ini adalah untuk memudahkan pelaksanaan administrasi seperti pemesanan sebuah majalah yang dapat dilakukan dengan menyebutkan nomor ISSN-nya. Nomor ISSN ini akan menghilangkan keragu-raguan karena ternyata banyak juga majalah yang sama atau hampir sama judul/namanya.
14. Impact Factor (IF)
Pengertian infact factor (IF) dari suatu jurnal akademis adalah ukuan yang mencerminkan jumlah rata-rata tahunan dari kutipan artikel terbaru yang dipublikasikan dari jurnal itu. Hal ini sering digunakan sebagai proxy untuk kepentingan relative dari jurnal dalam bidangnya.  Adapun jurnal dengan IF yang lebih tinggi sering dianggap lebih penting dari pada jurnal dengan IF lebih rendah. Impact factor (IF) dirancang oleh Eugene Garfield, pendiri Institute for Scientific Information. Imfact Factor dihitung tahunan mulai dari tahun 1975 untuk ulasan jurnal-jurnal  yang tercantum dalam Journal Citation Reports dari Thomson Reteurs.
55. SNIP
SNIP merupakan singkatan dari Source Normalized Impact per Peper (SNIP), yang dibuat oleh Profesor Henk Moed di CTWS, Universitas Leiden, yang digunakan untuk mengukur kontekstual kutipan dampak dengan pembobotan kutipan berdasarkan jumlah total kutipan dalam bidang subjeknya. Dampak dalam kutipan tunggal diberikan nilai lebih tinggi di bidang studi dimana kutipan berada, dan sebaliknya.
  6. SJR
SJR adalah singkatan dari Scimagi Jurnal Rank. Dimana SCImago adalah kelompok riset dari Consejo Superior de Investigaciones Cientificas (CSIC), Universitas Granada, Extremadura, Carlos III (Madrid) dan Alcala de Henares, didedikasikan untuk  analisis informasi, representasi dan pengambilan dengan teknik visualisasi. Perhitungn SJR menggunakan database Scopus (Elsevier) dengan memperhatikan:
a.    Journal Coverage
b.    Relationship between primary (citable items) and total output per journal of the database.
c.    Assignment criteria for types of documents.
d.   Accuracy of the linkage between references and source records


Daftar Pustaka
Anonim. 2015. Tentang ISBN, ISSN dan KDT. http://flpcianjur.blogspot.co.id/2010/06/tentang-isbn-issn-dan-kdt.html, diakses pada tanggal 16 Oktober 2017.
Anonim. Tanpa tahun. ISBN. https://id.wikipedia.org/wiki/ISBN, diakses pada tanggal 16 Oktober 2017.
Anonim. 2014. Pengertian ISSN. http://infopekanini.blogspot.co.id/2014/04/pengertian-issn.html, diakses pada tanggal 17 Oktober 2017.
Anonim. 2017. Faktor Dampak. https://id.wikipedia.org/wiki/Faktor_dampak, diakses pada tanggal 17 Oktober 2017
Darmawan, Yogi. 2010. Pengertain ISBN-10 dan ISBN-13. http://yogi-rocky.blogspot.co.id/2010/05/isbn-10.html, diakses pada tanggal 16 Oktober 2017.
Read More

Selasa, 03 Oktober 2017

SITASI DAN BIBLIOGRAFI MENGGUNAKAN ZOTERO IEEE STYLE

Indikator Alami dalam Proses Titrasi
Dalam analisis kimia kualitatif, terdapat dua teknik analisis yakni analisa volumetri dan analisa gravimetri. Analisa volumetri merupakan salah satu metode analisa kuantitatif, yang sangat penting penggunaannya dalam menentukan konsentrasi zat yang ada dalam larutan. [1] Dalam analisa volumetri terdapat 4 jenis titrasi yaitu titrasi asam-basa, titrasi pengendapan, titrasi redoks, dan titrasi pembentukan kompleks. Komponen penting dalam suatu titrasi adalah indikator, karena indikator ini yang dijadikan patokan untuk menghentikan titrasi. Misalnya, dalam titrasi asam-basa dibutuhkan indikator yang dapat menunjukkan perubahan warna jika terjadi perubahan pH larutan.
Indikator umumnya adalah senyawa yang berwarna, dimana senyawa tersebut akan berubah warnanya dengan adanya perubahan pH. [2] Ada beragam jenis indikator asam basa yang biasanya digunakan di laboratorium kimia, diantaranya adalah lakmus, indikator universal, larutan indikator (seperti fenolftalein, metil merah, brom timol biru), dan indikator alam. Indikator alam merupakan jenis indikator yang dibuat dari tumbuhan, baik dari bagian daun, bunga, buah, dan batang. [3] Berikut adalah beberapa bahan alami yang dapat digunakan sebagai indikator asam-basa:
1.    Kunyit
Kandungan zat kimia yang terdapat dalam rimpang kunyit adalah minyak atsiri, pati, serat dan abu. Komponen utama dalam rimpang kunyit adalah kurkuminoid dan minyak atsiri. [4] Kurkumin dapat digunakan sebagai indikator titik akhir titrasi dalam analisis volumetri menggantikan fenolftalein dan methyl orange. (Harjanti, 2008)
Dari hasil analisa diperoleh penyimpangan sebesar 0,63% yaitu perbedaan titik akhir pada titrasi dengan indikator pp dan kurkumin sangat kecil, sehingga kurkumin layak digunakan sebagai alternatif indikator pp (fenolftalein) dalam titrasi asam basa. Dari hasil penelitian diperoleh hasil penyimpangan 0,18% ditunjukkan oleh indikator kurkumin. Sehingga indikator kurkumin dapat digunakan sebagai indikator alternatif pengganti methyl orange (mo) untuk titrasi asam basa. [4]
2.    Buah Karamunting
Larutan indikator buah karamunting memberikan warna merah pada suasana asam dan warna merah akan semakin muda dan menjadi kuning apabila keasamannya berkurang. Pada suasana basa berwarna ungu dan menjadi biru apabila basanya semakin kuat. Perubahan warna yang terjadi pada kertas indikator buah karamunting mengindikasikan adanya perbedaan pH suatu larutan tertentu. [3]
3.    Ekstrak Kubis Ungu
Titik akhir titrasi yang ditunjukkan antara larutan yang menggunakan ekstrak total kubis ungu selisihnya tidak bermakna dengan larutan yang menggunakan indikator brom timol biru sehingga dapat dinyatakan bahwa indikator ekstrak total kubis ungu dapat digunakan dalam menentukan titik akhir titrasi pada titrasi asam kuat basa kuat. (Nur et al., 2016)
4.    Ekstrak Kulit Buah Naga
Ekstrak kulit buah naga dapat digunakan sebagai indikator asam basa dengan perubahan warna dari merah muda menjadi kuning pada proses titrasi asam kuat dan basa kuat. [5]
5.    Daun Adam Hawa (Rheo discolor)
Indikator ekstrak daun adam hawa berpotensi sebagai indikator titrasi asam dan basa. Indikator ekstrak daun adam hawa memiliki trayek pH 4,75-6,75 dengan perubahan warna dari jingga kemerahan-hijau kecoklatan. [6]
6.    Ekstrak Daun Erpa (Aerva sanguinolenta)
7.    Ekstrak pewarna daun erpa memiliki pH 5 dengan total antosianin 117 mg antosianin/100 g. Pewarnaan film terbaik dilakukan dengan cara pengolesan dengan 1 mL pewarna erpa pada 40 cm2 film. Pembuatan label (film) dengan pencampuran langsung menghasilkan film yang tidak berwarna. Pembuatan film indikator dengan metode pengolesan 1 mL ekstrak warna di atas 20 cm2 film kitosan-PVA menghasilkan film indikator dengan warna yang stabil dan merata. [7]
8.    Kembang Telang (Clitoria ternatea L.)
Ekstrak warna kembang telang dapat digunakan sebagai indikator titrasi asam basa dengan rentang konsentrasi yang didapat yaitu 0,1004 ± 0,0032 untuk HCl 0,1000 N dan persentase kesalahan sebesar 0,4%. [8]
9.    Bunga Sepatu (Hibiscus rosa sinensis L)
Ekstrak mahkota bunga sepatu dapat digunakan sebagai indikator pada titrasi asam-basa (asam kuat-basa kuat, asam lemah-basa kuat dan basa lemah-asam kuat). Perubahan warna dalam asam berwana merah dan basa berwarna hijau. Terjadinya perubahan warna karena dalam ekstrak tersebut mengandung antosianin, yang dalam strukturnya terdapat kation flavilium membentuk anhidrobase akibat perubahan pH. Indikator ekstrak mahkota bunga sepatu mempunyai kemiripan dengan indikator metil oranye dan fenolftalein, sehingga dapat sebagai pengganti indikator tersebut. [9]

BIBLIOGRAFI
[1]   R. S. Harjanti, “Pemungutan Kurkumin dari Kunyit (Curcuma domestica val.) dan Pemakaiannya Sebagai Indikator Analisis Volumetri,” J. Rekayasa Proses, vol. 2, no. 2, hal. 49–54, 2008.
[2]   I. W. Suirta, “Sintesis Senyawa Orto-Fenilazo-2-Naftol Sebagai Indikator Dalam Titrasi,” J. Kim., vol. 4, no. 1, 2010.
[3]   C. Indira, “Pembuatan Indikator Asam Basa Karamunting,” Kaunia Vol XI No, vol. 1, hal. 1–10, 2015.
[4]   R. Sundari, “PEMANFAATAN DAN EFISIENSI KURKUMIN KUNYIT (CURCUMA DOMESTICA VAL) SEBAGAI INDIKATOR TITRASI ASAM BASA,” J. Teknoin, vol. 22, no. 8, 2017.
[5]   A. Yulfriansyah dan K. Novitriani, “PEMBUATAN INDIKATOR BAHAN ALAMI DARI EKSTRAK KULIT BUAH NAGA (Hylocereus polyrhizus) SEBAGAI INDIKATOR ALTERNATIF ASAM BASA BERDASARKAN VARIASI WAKTU PERENDAMAN,” J. Kesehat. Bakti Tunas Husada, vol. 16, no. 1, hal. 153–160, 2016.
[6]   S. Ratnasari, D. Suhendar, dan V. Amalia, “STUDI POTENSI EKSTRAK DAUN ADAM HAWA (Rhoeo discolor) SEBAGAI INDIKATOR TITRASI ASAM-BASA,” Chim. Nat. Acta, vol. 4, no. 1, hal. 39–46, 2016.
[7]   E. Warsiki, R. Nofrida, dan I. Yuliasih, “Pemanfaatan Ekstrak Daun Erpa (Aerva sanguinolenta) untuk Label Cerdas Indikator Warna,” J. Ilmu Pertan. Indones., vol. 18, no. 1, hal. 15–19, 2014.
[8]   U. M. Ramdan, “EFEKTIVITAS KONSENTRASI ETANOL UNTUK EKSTRAKSI PEWARNA ALAMI KEMBANG ANG (Clitoria ternatea L.) DAN APLIKASINYA SEBAGAI ALTERNATIF INDIKATOR ASAM BASA,” J. Kesehat. Bakti Tunas Husada, vol. 17, no. 1, hal. 33–40, 2017.
[9]   S. Nuryanti, S. Matsjeh, C. Anwar, dan T. J. Raharjo, “Indikator titrasi asam-basa dari ekstrak bunga sepatu (Hibiscus rosa sinensis L),” Agritech, vol. 30, no. 3, 2010.
[10] M. A. Nur, A. S. Panggabean, dan others, “Potensi Pemanfaatan Ekstrak Kubis Ungu (Brassica oleracea L.) sebagai Indikator Asam Basa Alami,” J. Kim. MULAWARMAN, vol. 13, no. 1, 2016.

Read More
Diberdayakan oleh Blogger.